Photo by Dikaseva on Unsplash

‘Nenek Moyangku Seorang Koruptor’ : Analisis Respons Netizen Soal Korupsi di Era Daendels

Beberapa hari lalu (7/2/2021) ada twit yang ramai dibicarakan di dunia maya Twitter Indonesia. Twit itu membicarakan korupsi di jaman penjajahan Belanda. Menurut akun Twitter @mazzini_gsp, pada saat pembangunan jalan raya Anyer – Panarukan yang dikenal sebagai salah satu proyek kerja paksa, pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Herman Willem Daendels sudah menyediakan gaji untuk para pekerja yang diberikan melalui Bupati. Akan tetapi alokasi gaji tersebut tidak sampai ke para pekerja.

Twit tersebut mendapatkan respons ramai dari netizen. Saat artikel ini ditulis (8/2/2021), twit @mazzini_gsp itu mendapatkan 23100-an retweet, 4841 quote tweet, 65500-an like, dan 1900-an reply. Untuk mengetahui apa isi respons netizen, kami melakukan analisis terhadap isi twit-twit yang menanggapi dan mengutip twit @mazzini_gsp itu. Dengan memakai skrip Python, kami mengambil dan mengolah twit-twit tanggapan (reply) dan kutipan (quote tweet) dari twit @mazzini_gsp di atas dengan jumlah total 693 twit.

Kami menyelidiki kata-kata yang paling banyak dipakai netizen di dalam data twit-twit respons terhadap twit korupsi era Daendels. Kata-kata yang paling banyak dipakai itu terdiri dari 4 jenis, yaitu kata tunggal (unigram), rangkaian 2 kata (bigram), rangkaian 3 kata (trigram), dan rangkaian 4 kata (4-gram). Dalam menghitung rangkaian kata-kata terbanyak, ada kata-kata tertentu (stop words) yang sengaja tidak dihitung karena tidak memberikan makna tambahan signifikan.

Berikut adalah kata-kata tunggal (unigram) yang paling banyak ditemukan di dalam respons terhadap twit korupsi era Daendels:

Sumber: Orudata.web.id

Kata-kata tunggal (unigram) terbanyak adalah dalam data pada studi ini adalah “sejarah” (181), “dari“ (104), “korupsi“  (91), “ada“ (86), “daendels“ (80), “dulu“ (73).

Berikut adalah rangkaian 2 kata (bigram) yang paling banyak ditemukan di dalam respons terhadap twit korupsi era Daendels:

Sumber: Orudata.web.id

Bigram terbanyak di dalam data pada studi ini adalah “selama ini” (35), “buku sejarah” (22), “dari jaman” (22), “mendarah daging” (20), “belajar sejarah” (19).

Berikut adalah rangkaian 3 kata (trigram) yang paling banyak ditemukan di dalam respons terhadap twit korupsi era Daendels:

Sumber: Orudata.web.id

Trigram terbanyak di dalam data pada studi ini adalah “nenek moyangku seorang” (9), “dari jaman dulu” (9), “di buku sejarah” (9), “moyangku seorang koruptor” (8), “sudah mendarah daging” (7).

Berikut adalah rangkaian 4 kata (4-gram) yang paling banyak ditemukan di dalam respons terhadap twit korupsi era Daendels:

Sumber: Orudata.web.id

4-gram terbanyak di dalam data pada studi ini adalah “nenek moyangku seorang koruptor” (8), “korupsi sudah ada sejak” (4), “yang terjadi dan dicatat” (2), “terjadi dan dicatat yang” (2), “dan dicatat yang terjadi” (2).

Di antara twit-twit respons terhadap twit korupsi era Daendels di dalam studi ini, hanya satu twit yang memiliki jumlah retweet lebih dari 10. Berikut adalah 6 twit paling populer dari twit-twit respons tersebut (klik gambar untuk melihat lebih jelas):

Sumber: Orudata.web.id (klik gambar untuk melihat lebih jelas)

Tiga belas twit selain 6 twit di atas memiliki jumlah retweet 1. Sementara twit lainnya tidak memiliki retweet sama sekali.

Berikut adalah data panjang karakter di dalam twit-twit respons terhadap twit korupsi era Daendels:

Sumber: Orudata.web.id

Respons terhadap korupsi di era Daendels menunjukkan munculnya kesadaran bahwa korupsi adalah bagian dari sejarah bangsa Indonesia. Ada sisi lain di dalam sejarah bangsa kita serta di dalam pengajaran sejarah di sekolah. Pada beberapa twit respons ada gagasan-gagasan informatif, yaitu bahwa kerja paksa itu menyengsarakan rakyat bukan karena rakyat pekerja tidak digaji melainkan karena menjalankan beban kerja yang tidak manusiawi. Selain itu, ada twit informatif tentang Daendels yang juga melakukan korupsi dengan cara meminta upeti kepada rakyat atau kesultanan Yogyakarta waktu itu. Gagasan-gagasan di atas mendukung persepsi bahwa korupsi adalah suatu realitas hidup di dalam sejarah kita, yang kita juga temukan di masa kini.

Dalam analisis kami, salah satu respons netizen adalah gagasan ‘nenek moyangku seorang koruptor’. Akan tetapi, jika dipertimbangkan lebih lanjut, gagasan ‘nenek moyangku seorang koruptor’ itu kurang tepat. Karena, kalaupun para bupati atau pemimpin daerah di masa lalu itu melakukan korupsi, istilah ‘koruptor’ itu melekat untuk para pemimpin daerah waktu itu saja. Sementara, para pemimpin daerah itu jumlahnya hanya sedikit dibandingkan dengan masyarakat biasa. Nenek moyang kita yang adalah warga biasa sekarang ini kemungkinan besar adalah warga biasa juga di masa lalu. Dan warga biasa di masa lalu dapat dikatakan sebagai korban korupsi para pemimpin daerah mereka. Bahkan, alih-alih para bupati, nenek moyang kita lebih mungkin adalah salah satu dari pekerja ‘kerja paksa’ proyek jalan Anyer – Panarukan. Ini karena jumlah para pekerja tersebut pasti lebih banyak daripada jumlah para pemimpin daerah yang diduga melakukan korupsi. Jadi, gagasan yang lebih tepat adalah ‘nenek moyangku adalah korban korupsi’.

Dataset twit yang dipakai pada studi ini dapat dilihat di Github.

Foto ilustrasi oleh Dikaseva di Unsplash.